Sebuah seni untuk bersikap bodo amat review // Mark Manson
Sebenarnya saya merasa sangat terlambat saat menuliskan review buku ini 😅. Pasalnya buku ini telah diterbitkan dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sejak berbulan-bulan yang lalu, bahkan saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tapi bodo amat, setidaknya dengan menulis ini saya akan mempunyai rangkuman buku ini dalam versi saya sendiri :D dan untung-untung kalau ada yang mau membaca tulisan ini hehe ( ˘ ³˘)/✌
Dari judul dan bahkan dari daftar isinya, sepintas seperti berlawanan dengan kriteria perbuatan yang harus dibangun untuk sukses. Di bab 1 diberi judul "jangan berusaha", di bab 2 "kebahagiaan itu masalah" dan begitu pula gambarannya untuk bab-bab selanjutnya.
Okey, karena makna yang terkandung sangat banyak dan sangat berkesan, saya akan menuliskan beberapa yang saya garis bawahi saat membaca.
1. "Kepercayaan ini, bahwa tidak sempurna itu memalukan, adalah sumber tumbuhnya Lingkaran Setan yang mulai mengambil alih peradaban kita" penulis merasa bahwa sekarang ini banyak wabah psikologis dimana orang-orang tidak menerima dengan tenang bahwa kadang ada suatu hal yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidup ini. Dan saat kita percaya bahwa mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan itu memalukan, secara tidak sadar kita mulai menyalahkan diri sendiri dan merasa ada yang salah dengan diri kita. (hal 23)
2. Yang kedua adalah yang biasa terjadi saat kita menginginkan sesuatu tetapi ternyata yang terjadi tidak seperti itu. Maka kemungkinan yang akan dilakukan selanjutnya adalah membombardir diri kita sendiri bahwa "saya adalah orang yang gagal, saya orang yang cepat menyerah atau pecundang, atau saya kurang ini, kurang itu". Namun kebenaran yang tidak jauh lebih menarik adalah "saya menginginkan sesuatu, padahal pada kenyataannya tidak". Habis perkara. "Saya menginginkan imbalan bukan jerih payah. Saya menginginkan hasil bukan proses. Saya hanya jatuh cinta pada kemenangan bukan perjuangan". Dan hidup tidak berjalan seperti itu :') (hal 46)
3. Beberapa contoh nilai yang baik, sehat: kejujuran, inovasi, peka, membela diri sendiri, membela orang lain, penghargaan diri, rasa ingin tahu, amal, kerendahan hati, kereativitas. (hal 102)
4. Tiket untuk meraih kesehatan emosional sama halnya dengan kesehatan fisik, datang dari sayur-sayuran yang anda makan yaitu, menerima kebenaran hidup yang hambar dan biasa. Resep sayuran ini akan terasa pahit di awalnya, terasa sangat tidak enak. Namun sekali tercerna, tubuh akan terbangun dengan perasaan lebih kokoh dan lebih hidup. Anda akan mampu mengapresiasi pengalaman-pengalaman sederhana di hidup anda: nikmatnya pertemanan yang simpel, menciptakan sesuatu, membantu seseorang yang membutuhkan, membaca buku bagus, tertawa bersama orang yang anda sayangi. Terdengar membosankan, mungkin karena hal-hal semacam ini biasa saja. Namun juga mungkin karena satu alasan: itulah yang benar-benar berarti. (hal 72-73)
Membaca buku ini seperti menemukan sesuatu yang sederhana. Tapi, hey!! Inilah kebenarannya :D sebenarnya kita telah mengetahuinya namun tertutup dengan nilai-nilai yang telah kita bangun sendiri. Tentu saja dalam kalimat ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa apa yang tertulis dalam buku ini benar-benar benar 😂. Karena tidak ada yang dinamakan benar(dalam perbuatan yang kita pilih), yang ada hanyalah mempersempit kekeliruan. Dalam proses pertumbuhan di dunia ini kita akan menemukan makna-makna kehidupan lain yang akan kita temui.
Sekian 😊 dan mohon koreksinya 🙏
Dari judul dan bahkan dari daftar isinya, sepintas seperti berlawanan dengan kriteria perbuatan yang harus dibangun untuk sukses. Di bab 1 diberi judul "jangan berusaha", di bab 2 "kebahagiaan itu masalah" dan begitu pula gambarannya untuk bab-bab selanjutnya.
Okey, karena makna yang terkandung sangat banyak dan sangat berkesan, saya akan menuliskan beberapa yang saya garis bawahi saat membaca.
1. "Kepercayaan ini, bahwa tidak sempurna itu memalukan, adalah sumber tumbuhnya Lingkaran Setan yang mulai mengambil alih peradaban kita" penulis merasa bahwa sekarang ini banyak wabah psikologis dimana orang-orang tidak menerima dengan tenang bahwa kadang ada suatu hal yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidup ini. Dan saat kita percaya bahwa mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan itu memalukan, secara tidak sadar kita mulai menyalahkan diri sendiri dan merasa ada yang salah dengan diri kita. (hal 23)
2. Yang kedua adalah yang biasa terjadi saat kita menginginkan sesuatu tetapi ternyata yang terjadi tidak seperti itu. Maka kemungkinan yang akan dilakukan selanjutnya adalah membombardir diri kita sendiri bahwa "saya adalah orang yang gagal, saya orang yang cepat menyerah atau pecundang, atau saya kurang ini, kurang itu". Namun kebenaran yang tidak jauh lebih menarik adalah "saya menginginkan sesuatu, padahal pada kenyataannya tidak". Habis perkara. "Saya menginginkan imbalan bukan jerih payah. Saya menginginkan hasil bukan proses. Saya hanya jatuh cinta pada kemenangan bukan perjuangan". Dan hidup tidak berjalan seperti itu :') (hal 46)
3. Beberapa contoh nilai yang baik, sehat: kejujuran, inovasi, peka, membela diri sendiri, membela orang lain, penghargaan diri, rasa ingin tahu, amal, kerendahan hati, kereativitas. (hal 102)
4. Tiket untuk meraih kesehatan emosional sama halnya dengan kesehatan fisik, datang dari sayur-sayuran yang anda makan yaitu, menerima kebenaran hidup yang hambar dan biasa. Resep sayuran ini akan terasa pahit di awalnya, terasa sangat tidak enak. Namun sekali tercerna, tubuh akan terbangun dengan perasaan lebih kokoh dan lebih hidup. Anda akan mampu mengapresiasi pengalaman-pengalaman sederhana di hidup anda: nikmatnya pertemanan yang simpel, menciptakan sesuatu, membantu seseorang yang membutuhkan, membaca buku bagus, tertawa bersama orang yang anda sayangi. Terdengar membosankan, mungkin karena hal-hal semacam ini biasa saja. Namun juga mungkin karena satu alasan: itulah yang benar-benar berarti. (hal 72-73)
Membaca buku ini seperti menemukan sesuatu yang sederhana. Tapi, hey!! Inilah kebenarannya :D sebenarnya kita telah mengetahuinya namun tertutup dengan nilai-nilai yang telah kita bangun sendiri. Tentu saja dalam kalimat ini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa apa yang tertulis dalam buku ini benar-benar benar 😂. Karena tidak ada yang dinamakan benar(dalam perbuatan yang kita pilih), yang ada hanyalah mempersempit kekeliruan. Dalam proses pertumbuhan di dunia ini kita akan menemukan makna-makna kehidupan lain yang akan kita temui.
Sekian 😊 dan mohon koreksinya 🙏
Komentar
Posting Komentar